Konflik Ethiopia, Sekjen PBB Serukan Hentikan Permusuhan 

Kamis , 25 Nov 2021, 19:58 WIB Reporter :Puti Almas, Fergi Nadira B/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Konflik Ethiopia telah sebabkan ribuan tewas dan jutaan mengungsi. Ilustrasi tentara Ethiopia di wilayah Tigray.
Konflik Ethiopia telah sebabkan ribuan tewas dan jutaan mengungsi. Ilustrasi tentara Ethiopia di wilayah Tigray.

IHRAM.CO.ID, NEW YORK — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta pihak-pihak yang berkonflik di Ethiopia untuk segera menghentikan permusuhan. 

 

Terkait

Ia menekankan perlunya gencata senjata segera dilakukan. Pernyataan tersebut datang saat Guterres melakukan kunjungan resmi ke Kolombia. 

Baca Juga

Ia mengatakan bahwa proses perdamaian yang ada di negara itu memberikan inspirasi terhadapnya dalam membuat seruan mendesak untuk menghentikan konflik di Ethiopia. 

“Proses perdamaian di Kolombia mengilhami saya membuat seruan kepada para protagonis konflik di Ethiopia untuk gencatan senjata tanpa syarat dan segera untuk menyelamatkan negara," ujar Guterres dalam pernyataan melalui jejaring sosial Twitter, dilansir Sputnik, Kamis (25/11).  

Sebelumnya pada awal bulan ini, Parlemen Ethiopia mengumumkan keadaan darurat enam bulan di seluruh negeri untuk melindungi penduduk dari kelompok pemberontak Popular Front for the Liberation of Tigray  (TPLF). Saat ini, kelompok tersebut maju menuju Ibu Kota Addis Ababa. 

Perkembangan tersebut telah mendorong beberapa negara untuk mulai mengevakuasi misi diplomatik dari Ethiopia. 

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed mengatakan siap berada di di garis depan untuk memimpin pasukan militer berperang melawan TPLF. 

Dilaporkan bahwa dalam dua hari terakhir, angkatan bersenjata nasional Ethiopia telah melakukan serangan yang membunuh 12 komandan TPLF.   

Sementara itu Amerika Serikat (AS) menilai tidak ada solusi militer untuk perang saudara di negara Afrika itu. "Tidak ada solusi militer untuk konflik di Ethiopia," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam sebuah pernyataan. 

Amerika Serikat menekankan bahwa diplomasi adalah pilihan pertama, terakhir, dan satu-satunya. 

Pernyataan tersebut juga mengatakan bahwa semua pihak harus menahan diri dari retorika yang menghasut dan berperang. 

Para pihak bertikai juga didesak untuk menahan diri, menghormati hak asasi manusia, mengizinkan akses kemanusiaan, dan melindungi warga sipil. 

Perang pecah pada November 2020 di wilayah Tigray antara pasukan federal Ethiopia dan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Pada Juli 2021, konflik menyebar ke dua wilayah tetangga di Ethiopia utara, dan pemberontak telah maju menuju Addis Ababa. 

Ribuan orang telah tewas sejak konflik dimulai. Semerntara lebih dari dua juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan 400 ribu orang di Tigray menghadapi kelaparan. 

Pernyataan dari Washington datang sehari setelah utusan khusus Amerika Serikat untuk Tanduk Afrika  Jeffrey Feltman melaporkan kemajuan menuju penyelesaian diplomatik antara pemerintah dan pemberontak Tigrayan. 

Namun ia juga memperingatkan hal ini berisiko dikalahkan oleh perkembangan yang mengkhawatirkan di lapangan. 

Feltman baru saja kembali dari Addis Ababa di untuk tugasnya memperbarui dorongan untuk menengahi gencatan senjata. Tidak jelas di mana tepatnya Abiy ditempatkan, dan media pemerintah tidak menyiarkan keberadaanya di lapangan.

 

Sumber: sputnik, aljazirah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini