Pelaksanaan Umrah Harus Memperhatikan Kesehatan Global

Ahad , 28 Nov 2021, 18:19 WIB Reporter : Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Jamaah melakukan tawafpada tahap pertama pembukaan umrah di tengah pandemi covid-19
Jamaah melakukan tawafpada tahap pertama pembukaan umrah di tengah pandemi covid-19

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan agar masyarakat dunia berhati-hati dengan varian baru Covid-19, Omicron. Virus ini disebut lebih membahayakan mengingat kecepatan berkembang biaknya yang berbeda dari sebelumnya.

 

Terkait

Berkaitan dengan kondisi saat ini, Pengamat Haji dan Umrah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dadi Darmadi, mengingatkan pelaksanaan ibadah harus memperhatikan kesehatan global. Informasi baik yang sempat diumumkan Kerajaan Saudi bisa saja dicabut kembali.

"Dari kondisi ini, kita melihat sebaik apapun kebijakan baik di dalam dan luar negeri, sebaik apapun persiapan yang dilakukan terkait ibadah umrah maupun haji, tidak akan terlepas dari kondisi kesehatan global," ujar dia saat dihubungi Republika, Ahad (28/11).

Ia menyebut perkembangan kondisi ini dinilai sebagai sebuah tantangan baru bagi industri haji dan umrah di dunia, khususnya Indonesia. Bahkan, sebelum diumumkannya kehadiran virus baru dari Afrika ini, ia merasa khawatir dengan kecenderungan pemerintah yang kemungkinan menerapkan kembali PPKM Level 3, menyusul natal dan tahun baru (Nataru).

Artinya, jika Indonesia kemungkinan memperketat aturan perjalanannya, maka dari negara lain baik masuk ataupun ke luar, ada kemungkinan juga mengalami hal serupa.

Berdasarkan pengumuman yang disampaikan WHO tentang varian Omicron ini, Kerajaan Saudi pun langsung memutuskan mangguhkan penerbangan ke dan dari tujuh negara Afrika. Mereka adalah Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Mozambik, Lesotho dan Eswatini.

"Ada tujuh negara yang langsung dihentikan penerbangannya. Sementara, di sisi lain, masih mengizinkan penerbangan dari negara lain, termasuk Indonesia. Artinya, kita masih wait and see," lanjut Dadi.

Sejauh ini, ia melihat masih ada kesempatan untuk memberangkatkan rombongan umrah, jika Indonesia mampu bergerak cepat. Namun, situasi saat ini penuh dengan spekulasi, mengingat otoritas kesehatan Saudi bisa membuat keputusan yang serius dan mendadak, melihat kondisi global.

Ia lantas mencontohkan kondisi pelaksanaan umrah tahun lalu, dimana umrah sempat dibuka untuk semua negara selama beberapa waktu. Setelah muncul kasus dengan varian baru dan kondisi yang dinilai tidak memungkinan, Kerajaan Saudi langsung menutup akses tersebut.

"Bulan November tahun lalu, semua sempat dibuka. Tapi begitu ada kasus dan terlihat harus segera dibatas pergerakannya, langsung ditutup. Otoritas Kesehatan Arab Saudi bisa sekeras itu. Ini harus kita cermati bersama," katanya.

Dadi pun menekankan, apapun yang menjadi keputusan bersama baik dari Kementerian Agama dan asosiasi perjalanan terkait pelaksanaan umrah, jika kondisi pandemi masih belum stabil, maka kondisinya masih sangat berat.

Terakhir, ia menyebut kesiap siagaan segala pihak dalam menghadapi pandemi ini harus maksimal. Jangan sampai, niat untuk beribadah yang baik ini malah menjadi pintu masuk wabah dan membahayakan banyak orang.   

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini