Rabu, 20 Zulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Rabu, 20 Zulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

 

Dosen IAIN Palu Ungkap Korelasi Puasa dan Mawas Bencana

Kamis 16 Mei 2019 16:57 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Ramadhan

Ilustrasi Ramadhan

Foto: Pixabay
Puasa mengajarkan kesadaran menghadapi bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU— Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah,  Gani Jumat, mengemukakan puasa memiliki korelasi yang kuat dengan pendidikan mitigasi bencana.

"Ada hubungan antara mitigasi bencana dengan puasa, kedua-duanya sama-sama mengajarkan tentang kesadaran," ujarnya saat menyampaikan kultum sebelum shalat Zhuhur di Masjid Al-Abrar Kompleks IAIN Palu, Kamis (16/5).

Baca Juga

Puasa menurut dia, memberikan pendidikan untuk membangun kesadaran spiritual, intelektual, dan moral serta akhlak. Pendidikan mitigasi bencana juga memberikan kesadaran kepada manusia agar terhindar dari risiko bencana.

Dekan Fakultas Syariah IAIN Palu itu menyebut puasa memberikan pendidikan spiritual,moral yang sangat baik, yaitu membangun keimanan untuk menuju ketakwaan. Meyakini bahwa apa yang terjadi karena kehendak Allah SWT.

Oleh karena itu, sistem mitigasi bencana yang salah satunya berupaya membangun bangunan tahan gempa, pada akhirnya tidak akan bisa bertahan. Sebab, dari sisi spiritual atau keyakinan dan kepercayaan bahwa segala sesuatu pasti akan kembali ke asalnya, katanya..

"Puasa mencetak seseorang untuk memiliki kesadaran spiritual, moral, akhlak, dan intelektual. Artinya bahwa membangun kesadaran bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari ketentuan Allah," ujar dia.

Alquran telah menyajikan berbagai kisah, bagaimana orang-orang terdahulu menyelamatkan diri dari bencana. Sistem mitigasi bencana juga berangkat dari pengalaman historis atau sejarah atau masa lampau. 

Dia menjelaskan, sama seperti puasa yang juga memberikan sistem belajar di masa lalu. Sepenggal kalimat dalam surah al-Baqarah ayat 183 berbunyi "Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian".

Dalam salah satu tafsir, kata Gani, yang di maksud orang-orang sebelum kamu pada ayat tersebut, yaitu di mulai zaman Nabi Nuh. Nuh memberikan pelajaran besar menuju ketakwaan, yaitu membangun kesadaran spiritual dan moral yang menjadi pendidikan mitigasi bencana.

Pendidikan mitigasi bencana yang di ajarkan Nuh saat itu, pertama, percaya kepada Allah, artinya tidak boleh syirik. Perilaku syirik tidak ada ampunannya. Kedua, membangun atau membuat bahtera perahu.

Nabi-nabi sebelumnya juga telah mengajarkan tentang mitigasi bencana antara lain Nabi Syuaib dan Shaleh.

Dia menegaskan ada hubungan yang kuat antara musibah yang terjadi dengan perilaku maksiat, menyimpang, dan pelanggaran agama. Maka mitigasinya ialah kembali kepada anjuran agama.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES