Kamis 25 Aug 2022 16:02 WIB

Mahasiswa UB Temukan Alat Tes Cepat Infeksi Pneumonia

Pendeteksian bakteri selama ini memakai metode yang cenderung mahal dan lama.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) saat mencoba alat tes cepat Pseudomonas aeruginosa pada sputum pasien pneumonia.
Foto: Dokumen
Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) saat mencoba alat tes cepat Pseudomonas aeruginosa pada sputum pasien pneumonia.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sejumlah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang yang  berhasil menemukan alat tes cepat Pseudomonas aeruginosa pada sputum pasien pneumonia. Alat ini diketahui menggunakan µPADs dengan nanopartikel emas.

Ketua tim, Hotma Lestari mengatakan, ide pembuatan alat ini didasari dari penekanan bahwa kesehatan menjadi salah satu perhatian masyarakat dan pemerintah saat ini. Penyakit sendiri dapat disebabkan dari berbagai macam hal. "Salah satunya adalah ventilator mekanik pada rumah sakit," kata Hotma saat dikonfirmasi Republika.co.id, Jumat (25/8/2022).

Seperti diketahui, ventilator mekanik biasanya digunakan untuk menunjang sistem pernapasan. Alat ini ternyata menjadi salah satu penyebab infeksi pneumonia di ruang ICU.

Berdasarkan data penelitian, Pseudomonas aeruginosa menjadi bakteri penyebab infeksi paling sering di ICU. Bahkan, ini menjadi penyebab tinggi resistensi antibiotik di rumah sakit. Oleh karena itu, dibutuhkan alat tes untuk mendeteksi bakteri tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Hotma bersama Nasim Amar, Baiq Emalia Pebriatin, Aminatuz Zakiyah, dan Johannes Marulitua Nainggolan melakukan dan mengembangkan riset. Dia dan tim berusaha menciptakan tes cepat Pseudomonas aeruginosa pada sputum pasien pneumonia.

Pada alat ini, dia dan tim menggunakan µPADs dengan nanopartikel emas. Hotma berhadap produk riset ini dapat menjadi salah satu solusi alat tes cepat pseudomonas bagi pasien di rumah sakit.

Hal tersebut penting dilakukan karena pendeteksian bakteri selama ini memakai metode yang cenderung mahal dan lama. Beberapa di antaranya seperti PCR dan kultur bakteri.

Anggota tim, Nasim Umar menambahkan, metode yang digunakan dalam mendeteksi bakteri tersebut terbukti tidak terlalu efektif. Apalagi jika berhadapan dengan kasus-kasus emergensi yang memerlukan pendeteksian mikroba cepat.

Hal ini akan semakin sulit apabila terjadi di daerah terpencil yang mana laboratorium sulit dijangkau. Ia mengungkapkan, saat ini tim telah melakukan riset mendalam dan beberapa uji coba alat tes.

Pengujian telah dilakukan menggunakan gen pHz, sputum bakteri positif dan negatif, NaOH, Nanopartikel emas, cobalt serta  µPADs sebagai media. Menurut dia, hasil riset dan uji coba alat tersebut cenderung baik untuk digunakan.

Selanjutnya, dia dan tim akan menyelesaikan tahapan riset lainnya. "Dan melakukan beberapa publikasi ilmiah untuk mendukung hasil riset kami," kata dia menambahkan.

Sebagai informasi, riset ini berhasil mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek) serta bantuan dari UB. Tim mahasiswa ini juga mendapat bimbingan dari dosen Fakultas Kedokteran (FK) UB, Dwi Yuni Nur Hidayati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement