Senin 17 Oct 2022 17:39 WIB

100 Pemandu Wisata Dibekali Pengetahuan Utuh Candi Borobudur

Terdapat berbagai versi penjelasan tentang Borobudur yang populer di masyarakat.

Pengunjung berwisata di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Foto: ANTARA/Anis Efizudin
Pengunjung berwisata di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Sekitar 100 orang pemandu wisata dibekali pengetahuan utuh tentang Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi mengatakan, pengetahuan tentang Candi Borobudur diberikan oleh peneliti Candi Borobudur Dr Hudaya Kandahjaya.

"Kegiatan ini bermanfaat, di mana kami dari Bimas Buddha memberikan perhatian penuh terhadap pemanfaatan Candi Borobudur. Pemandu wisata perlu mendapatkan pemahaman utuh terkait beberapa pengetahuan yang selama ini sudah ada. Pengetahuan kan berkembang sehingga perlu update," katanya.

Ia menyampaikan hal tersebut usai pembukaan Pembekalan Pengetahuan tentang Borobudur bagi Pemandu Wisata Candi Borobudur di Hotel Manohara, kompleks Candi Borobudur. Supriyadi berharap pembicara bisa memberikan update pengetahuan sehingga bisa membuka cakrawala terhadap pemahaman Borobudur khususnya berkaitan dengan agama Buddha.

Peneliti Candi Borobudur Dr Hudaya Kandahjaya mengatakan awalnya pihaknya menyadari adanya kesimpangsiuran penjelasan tentang Candi Borobudur sehingga mendorongnya untuk meneliti Candi Borobudur.

Hudaya kelahiran Bogor, saat ini menjadi peneliti di Amerika Serikat yang sangat fokus terhadap Borobudur. Karyanya Borobudur-Biara Himpunan Kebajikan Sugata telah diterbitkan 2021 oleh Penerbit Karaniya.

Pembekalan bagi para pemandu wisata ini diadakan untuk memberikan sejumlah informasi seputar Borobudur, mengingat terdapat berbagai versi penjelasan tentang Candi Borobudur yang selama ini telah populer di masyarakat.

Ia menyampaikan penelitian tentu berpijak di dunia kehidupan nyata, selama ini ada istilah tridatu, itu diajukan oleh sarjana Belanda bernama Stutterheim, sejak awal sudah banyak menimbulkan kontroversi dan pada akhirnya banyak dibantah oleh para ahli.

"Memang betul karena yang disampaikan oleh Stutterheim itu karena kebetulan dia membaca di kitab Sang Hyang Kamahayanikan lalu kelihatannya cocok begitu. Bentuknya Borobudur sepertinya terdiri dari tiga lapis kalau dilihat secara kasar, padahal konsep dasar yang melatarbelakangi penyebutan tridatu di kitab itu tidak ada hubungnnya dengan Borobudur," katanya.

Kemudian dia mencontohkan lagi tentang bunyi sambhara budara yang beredar sebagai asal mula nama Borobudur, padahal penggagasnya yaitu Prof G de Casparis itu sudah menyatakan bahwa teorinya itu salah.

"Jadi penggagasnya sendiri sudah menyatakan salah. Saya sempat berkorespondensi dengan beliau pada 1980-an dalam surat itu menyatakan mohon maaf karena dulu waktu menyusun disertasi tahun 1950an terburu-buru ingin menjelaskan nama Borobudur. Budara itu dipilih oleh Prof G de Casparis supaya cocok dengan nama budur, padahal itu tidak ada hubungan sama sekali," katanya.

Menurut dia hal semacam ini kalau dibiarkan tentu tidak membantu memahami pengertian Borobudur seperti yang dimaksudkan oleh penciptanya. "Jadi tujuan saya meneliti adalah memahami menurut persepsi pencipta Borobudur. Bukan menurut persepsi saya pribadi," ujar dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement